-->
Diberdayakan oleh Blogger.
dd
PECROS HOT NEWS

Kisah Bocah Penderita Lumpuh Otak yang Hapal Alquran

Written By Lens@ Bulletin on 15 Jan 2015 | 06.40



Keyakinan sang ibu bahwa Alquran adalah obat mengantarkan Fajar Abdulrokhim Wahyudiono, bocah berusia 11 tahun penyandang Cerebral Palsy (CP) menjadi Hafidz Al Quran 30 juz. Kini, sang ayah dan bunda terus mengupayakan kesembuhan sekaligus hafalannya agar senantiasa terjaga.
’Mama, adzan Isya,’’ obrolan kami terhenti mendengar teriakan lembut Fajar, yang petang itu tengah asyik dengan keyboardPersonal Computer (PC) di sudut ruang tamu. Cukup mengagetkan memang, karena kami merasa belum mendengar apa yang didengar bocah tersebut. Apalagi suara sang Imam Masjidil Haram, Abdurrahman As Sudais yang disetelah di  PC cukup mendominasi, membuat suara di luar bagi kami hampir tidak terdengar.
‘’Pendengarannya memang sangat tajam. Begitu adzan dia langsung minta diantar ke masjid,’’ jelas sang ibunda, Heni Sulistyowati, 35 tahun, di kediamannya di kawasan Colomadu Kabupaten Karanganyar kepada Majalah Aitam, belum lama ini.
Ibu muda nan energik inipun bergegas membantu sang anak menyiapkan diri ke masjid. Dibantu Jono, sang pendamping, siswa kelas 2 SDIT Al Ihsan Ngasem, Colomadu ini segera memenuhi panggilan adzan Isya. Keterbatasan gerak tak membatasinya untuk berjalan kaki menuju masjid yang berjarak sekitar 200 meter itu.
CP merupakan Kelainan permanen akibat kerusakan atau kelainan otak yang mempengaruhi kemampuan seseorang dalam mengendalikan ototnya sehingga menyebabkan gangguan fisik dan kelainan pergerakan. CP bukan merupakan penyakit dan tidak bersifat progresif (semakin memburuk).
Setiap hari, sang ibunda yang mengantar kemanapun Fajar pergi. Mulai dari sekolah, menyetor hafalan Al Quran, terapi di dekat rumah, bermain hingga jalan-jalan ke toko buku kesukaannya. Sang ayah, Joko Wahyudiono, 43 tahun, sebulan sekali mengunjungi Fajar. Pekerjaannya sebagai geolog dan melanjutkan sekolah membuatnya tak bisa intens mendampingi sang buah hati.
Keberadaannya di Colomadu memang khusus untuk melakukan terapi. Setiap hari, tak kurang dari 1,5 jam bocah berkulit bersih itu sabar menjalani terapi. Adapun sang ayah, dengan kecanggihan teknologi, terus memberikan dukungan meski terpisah jarak.
‘’Kami akan terus memaksimalkan ikhtiar untuk kesembuhannya sebisa kami. Kami ingin mengantarkan Fajar mewujudkan mimpi-mimpinya. Dia ingin menjadi Imam Masjidil Haram seperti Imam Abdur Rahman As Sudais idolanya. Kami yakin, Allah akan memudahkan langkah kami.’’
Ingin Ketemu As Sudais
Di salah satu sudut dinding rumah,  terdapat tulisan di pigura kecil. Di situ, Fajar menuliskan cita-citanya, yakni Fajar akan bisa berjalan, Fajar akan pergi ke Makkah, menjadi Imam di Masjidil Haram dan bertemu As Sudais. Fajar juga ingin menulis buku, membuat mobil, membangun jalan tol dan membangun jembatan besar. ‘’Iya, Fajar ingin menjadi Imam Masjidil Haram. Ingin ketemu As Sudais,’’ kata Fajar dengan artikulasi sedikit terbata. Sungguh sangat menyentuh, cita-cita yang sangat besar untuk anak seusia dia.
Terlahir dengan usia kandungan prematur, 7,5 bulan, pada 2 Oktober 2003, membuat Fajar harus dirawat intensif di inkubator. Hampir sebulan di kotak pengaman itu, sang ayah bunda menitipkan kaset murottal ke perawat jaga untuk disetelkan ke dekat sang buah hati. Setelah diperbolehkan pulang, bayi Fajar hampir 24 jam tak pernah lepas dari memperdengarkan murottal.
‘’Kami sangat yakin Al Quran adalah obat. Saat pulang ke rumah, klep jantung Fajar belum menutup sempurna.  Selain terapi medis, kami juga terus memperdengarkan murottal As Sudais untuk Fajar. Sejak awal kami memang sengaja tidak menyetel televisi di rumah.’’
Pasangan yang menikah 12 tahun silam tersebut baru mengetahui  Fajar terkena CP pada usia 1 tahun. ‘’Sempat sedih dan protes juga pada Allah, tapi kami meyakini Allah tidak salah memilih kami. Alhamdulillah, papanya Fajar tipenya menenangkan. Sehingga kami bisa menjalani hari-hari sulit kami dengan indah.’’
Selain perkembangan motoriknya yang terlambat, Fajar juga belum lancar berbicara. Namun saat berumur dua  tahun, Fajar sudah mampu menirukan akhir ayat yang diperdengarkan. ‘’Di ujung ayat, Fajar selalu menirukan lafadz yang didengarnya. Lalu pada usia tiga tahun, ikut menirukan awal ayat.’’
Pada usia 4,5 tahun, Heni sengaja menghadirkan guru tahfidz di rumahnya, yang kala itu masih di Bandung. Selama enam bulan dibimbing, sang guru menyatakan Fajar sudah hafal 90 persen dari Al Quran meski masih belum urut. ‘’Sayang guru tahfidznya harus pindah keluar kota, sehingga proses mengurutkan hafalannya terhenti.’’
Heni mengungkapkan, tidak gampang mencari guru tahfidz pengganti, mengingat kondisi Fajar yang istimewa. Selama beberapa kali berganti guru, tak menyurutkan langkah Heni untuk terus mengajari sang anak menjadi seorang hafidz. ‘’Awalnya saya tidak memiliki tujuan ke arah sana (menjadikan hafidz), mengingat kondisi anak saya seperti itu. Tapi ternyata Allah memberikan jalan terindah kepada kami.’’
Terapi di Solo
Memasuki usia sembilan tahun, Heni mendapat informasi pengobatan bagi penyandang CP di Solo. Setelah berembug dengan suami, dia pun memilih melakukan terapi bagi Fajar, tepatnya di Colomadu. Fajar pun bisa bersekolah dengan nyaman di SDIT Al Ihsan, di Ngasem Colomadu.
Bagi dia, keterterimaan lingkungan sangat membantu upaya penyembuhan anak semata wayangnya itu. Usaha kerudung anak di Bandung, Jabar miliknya, sementara dia serahkan pengelolaannya kepada sang adik. Dia hanya sekali waktu mengecek perkembangan usaha konveksi yang dirintis sejak lama tersebut.
‘’Alhamdulillah, Fajar sangat nyaman dengan lingkungan rumah dan sekolah. Guru-guru dan siswa SDIT Al Ihsan sangat sayang pada Fajar. Semoga Fajar bisa menjadi anak mandiri dan Alloh mengabulkan cita-citanya.’’
Penuturan Ustadz Muhammad Danil Warisi, Koordinator Guru Alquran SDIT Al Ihsan: Fajar Anak Ajaib
Fajar itu anak ajaib, daya tangkap dan ingatannya sungguh luar biasa. Upaya orang tuanya memperdengarkan Alquran demi kesembuhannya berbuah manis. Ayat-ayat Alloh itu telah menyatu dengan otaknya, darah dan dagingnya. Semoga Allah menjaganya sampai nanti.
Sungguh beruntung orang tuanya, karena akan mendapatkan mahkota cahaya di akhirat kelak karena kesabarannya yang luar biasa membimbing dan mengarahkan Fajar menjadi salah seorang penjaga Al Quran.
Meski motoriknya terbatas, dia mampu mengikuti pelajaran di sekolah. Bahkan dia masuk sepuluh besar terbaik di kelasnya. Benar-benar luar biasa. Meski secara fisik dia tergantung dengan shadow-nya (pendamping-Red) Jono, tapi tidak dengan kemampuan intelegensianya. Dia tergolong anak yang cerdas dan periang.
(Karena keterbatasan motoriknya, di sekolah dia menulis dengan laptop dengan dibantu Jono, sang shadow teacher. Dia tidak pernah menggunakan buku tulis untuk menulis dengan tangannya)
Fajar sangat peka dengan bunyi ayat Al Quran. Memang untuk huruf hijaiyah agak kesulitan menghafal, karena sejak kecil dia terbiasa mendengarkan sekaligus membaca ayat Alquran dari komputer. Ini sangat membantu dianiteni apa yang telah dia baca selama bertahun-tahun. Kebetulan ibunya juga tidak pernah memperdengarkan bunyi lain selain suara murottal di rumahnya.
Pada awal masuk sekolah, ketika dilihatkan huruf hijaiyah satu persatu memang agak bingung. Fajar awalnya memang hanya mengenal tulisan Alquran tapi tidak mengenal tulisan Arab.  Sehingga  begitu dilihatkan potongan Alquran dia langsung tahu bunyinya.  Sekarang ini sudah banyak kemajuan, mulai mengenal huruf hijaiyah. Dan itu tidak mengacaukan hafalannya.
Di sekolah, Alhamdulillah lingkungan di sini sangat bersahabat. Kami, guru-guru SDIT Al Ihsan selalu mengajarkan anak didik kami agar mengedepankan empati serta tidak membedakan sikap dengan siapa saja. Karena itu, siswa kami sangat peduli dengan temannya.
Termasuk terhadap Fajar, anak-anak dengan senang hati membantu memasangkan sepatu khususnya, membantu berdiri saat shalat di masjid. Jadi tidak sekadar menjadi penonton meski sudah ada shadow yang siap membantunya setiap saat.
Ketertarikan dan minatnya akan Alquran sepertinya  tidak terganti. Meski di rumah juga sering disetelkan CD kartun seperti sponge bob dan film kartun lainnya, dia cepat bosan. Setelah selesai, pasti Fajar kembali menyetel murottal. Semoga tetap istiqomah sampai nanti.
(Anie R Rosyidah)
Diterbitkan di Majalah Aitam Edisi 9


Hubungan Mbah Sahal dengan Gus Dur: Dua Tokoh Besar Islam Indonesia

Written By Lens@ Bulletin on 13 Jan 2015 | 09.33

gus-dur-dan-kiai-sahal
KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur, 7 September 1940-30 Desember 2009) dan KH. Sahal Mahfudh (16 Februari 1933**/17 Desember 1937-24 Januari 2014) merupakan tokoh besar dari pesantren, yang menjadi inspirasi negeri ini. Keduanya tidak hanya faqih dalam bidang keagamaan, namun juga menguasai pemikiran modern serta mampu mendialogkan turats wa tajdid dalam satu tarikan nafas. Gus Dur dikenal piawai dalam penguasaan teks-teks klasik, sekaligus jagoan dalam memetakan ilmu sosial sekaligus gerakan transformatif. Kiai Sahal menjadi begawan dalam ilmu ushul, sekaligus mengaktualisasikan dalam gerakan pemberdayaan masyarakat. Gagasan ‘Fiqh Sosial’ merupakan buah dari renungan Kiai Sahal, untuk menjadikan hukum Islam, bukan sebagai teks yang statis, namun sebagai cara pikir (manhaj).
Gus Dur dan Kiai Sahal dipertemukan dalam jaringan nasab dengan Syekh Mutamakkin, seorang waliyullah yang menyebarkan Islam di pesisir Pati, tepatnya di desa Kajen. Kisah tentang Syekh Mutamakkin, disebutkan dalam serat Cebolek, yang terkenal dalam jagad literasi Jawa. Dari Syekh Mutamakkin inilah, kemudian lahir keturunan yang merupakan ahli ilmu dan pengasuh pesantren, yakni dari Mbah Hendrokusumo, Mbah Alfiyyah, dan Raden Bagus. Mbah Hendrokusumo, melahirkan keturunan yang saat ini menjadi pengasuh pesantren Kajen kawasan Kulon Banon. KH. Abdullah Zeyn bin Salam (Mbah Dullah) dan Kiai Sahal Mahfudh, termasuk dalam jaringan ulama ini.
Sedangkan, Mbah Alfiyyah menurunkan kiai-kiai pengasuh pesantren Wetan Banon. Pesantren Wetan Banon, di antaranya pesantren Salafiyyah, yang digawangi keluarga besar Mbah Sirodj dan kiai lainnya. Keturunan Syekh Mutamakkin yang bernama Raden Bagus, yang kemudian menjadi referensi silsilah ulama pengasuh pesantren di Jawa Timur. Dari Raden Bagus inilah, Gus Dur nyambung sebagai keturunan Syekh Mutamakkin.
“Saya selalu memanggil Durrahman. Karena ibu kandung saya adalah adik kandung ibunya Durrahman,” ungkap Nyai Hj. Nafisah Sahal. Selain itu, ayah kandung Kiai Sahal, Mbah Mahfudh bin Salam, adalah sepupu KH. Bisri Syansuri, kakek Gus Dur. Mbah Bisri (KH. Bisri Syansuri) menikah dengan Ny. Hj. Chodidjah, adik pendiri NU KH. Wahab Chasbullah. Pasangan ini melahirkan enam anak, yakni KH. Ahmad Bisri, Hj. Muassomah (nenek Cak Imin, Muhaimin Iskandar), Hj. Sholihah (ibu kandung Gus Dur), Hj. Musyarofah (ibu kandung Ny. Nafisah Sahal), KH. Abdul Aziz Bisri dan KH. Shohib Bisri. Dari jalur silsilah ini, betapa dekat hubungan darah Gus Dur dengan keluarga KH. Sahal Mahfudh.
Tepat tiga hari setelah menjadi presiden, Gus Dur langsung sowan ke Syekh Mutamakkin.
“Saya titip pesan, masyarakat Pati tidak perlu ramai-ramai. Persatuan dan kesatuan lebih penting. Kalau benar masyarakat Pati cinta Mbah Mutamakkin, Insya Allah adil dan makmur akan segera terwujud,” ungkapnya.
Syekh Mutamakkin menjadi tokoh pertama yang diziarahi Gus Dur, sebelum menziarahi kakeknya, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari di Tebu Ireng, Jombang. Setelah berziarah ke Syekh Mutamakkin, Gus Dur sowan ke Mbah Sahal Mahfudh dan Kiai Abdullah Salam al-hafidz (Mbah Dullah Salam—begitu santri-santri di Pati menyebutnya).
Gus Dur memasuki ndalem Mbah Dullah lewat dapur, yang menerobos dari rumah Kiai Sahal lewat gang-gang sempit di antara pemukiman warga. Di hadapan Mbah Dullah, Gus Dur langsung mencium tangan kiai kharismatik ini, dan duduk bersimpuh di hadapannya. Dari penuturan beberapa kiai Kajen, Mbah Dullah merupakan salah satu kiai yang menjadi referensi Gus Dur, dalam persoalan-persoalan penting.
Bahkan, suatu ketika, Gus Dur matur ke Mbah Dullah, bahwa ada seseorang yang akan mengobatkan mata Gus Dur yang sedang sakit. Seseorang tersebut adalah pengusaha Tionghoa yang kaya raya, dengan jaringan bisnis kretek di negeri ini. Mbah Dullah tidak kersa (tidak memberi izin), karena menurut Mbah Dullah, dengan sakitnya mata, Gus Dur sudah mendapat anugrah dari Allah yang luar biasa besar, yakni dihindarkan dari dosa-dosa akan melihat kema’siatan dunia. Dalam beberapa urusan mendesak lainnya tentang negara, NU dan Islam, Gus Dur juga sering meminta dawuh dari Mbah Dullah.
Mbah Dullah juga menjadi guru dan pendidik Kiai Sahal, ketika masih kecil. Mbah Dullah menggantikan peran ayahanda Kiai Sahal, Mbah Mahfudh yang meninggal ketika dalam tahanan kolonial Belanda. Mbah Mahfudh bin Salam, wafat di penjara Ambarawa, Jawa Tengah. Peran sebagai pelindung, pengasuh dan pembimbing, inilah yang menuntun jalan Kiai Sahal, dalam ketekunan mengaji dan memberdayakan masyarakat.
Dengan demikian, Kiai Sahal dan Gus Dur dipertemukan dalam guru spiritual yang sama, yakni Mbah Abdullah Zeyn Salam.
***
Pada Muktamar ke-31 Nahdlatul Ulama di Asrama Haji Donohudan, Solo, tahun 2004, paman dan keponakan itu seolah bersaing untuk menjadi Rais ‘Am PBNU. Akhirnya Sang Paman, Kiai Sahal, yang ditunjuk menjadi pimpinan tertinggi PBNU.
Kiai Sahal memanggil Gus Dur dengan sebutan ‘Durrahman’. Mengenai kecerdasan Gus Dur, Kiai Sahal mengungkapkan: “Durrahman itu bukan tokoh kontroversial seperti yang ditulis di koran. Tetapi, dia memang mempunyai kecerdasan di atas rata-rata kebanyakan orang dan selalu berpikir lebih maju dari kita,” ungkap Kiai Sahal.
Gus Dur dan Kiai Sahal tidak hanya dekat dari sisi keturunan. Akan tetapi, juga semangat pergerakan. Gus Dur, menjadi ikon generasi muda pesantren untuk tidak hanya menjaga ‘tradisi’, namun juga selalu mencari terobosan untuk pengembangan masyarakat. Hal ini, sesuai dengan matra pesantren, ‘al-muhafadzatu ‘ala al-qadimi as-shalih, wal akhdzu bil jadidi al-ashlah’. Bersama Gus Dur, Kiai Sahal pernah menjadi bagian dari Proyek Pengembangan Masyarakat dari LP3ES. Ada 3 agenda dalam proyek ini. Pertama, pelestarian lingkungan terkait pencemaran limbah dari pabrik tepung tapioka. Kedua, memperkenalkan teknologi terapan bagi penduduk desa, yaitu tungku yang dapat menghemat energi dan biaya. Ketiga, Kiai Sahal merintis perkembangan organisasi ekonomi mandiri dari kalangan masyarakat pedesaaan.
***
Gus Dur juga memiliki hubungan kerabat yang dekat dengan istri Kiai Sahal, Ny. Hj. Nafisah. “Sekitar tahun 1962-1964, saya belajar bahasa Inggris pada mas Dur,” ungkap nyai Nafisah. Menurutnya, Gus Dur tidak hanya piawai bahasa Inggris dan Arab, namun juga bahasa Prancis, Belanda dan Mandarin.
Nyai Nafisah juga menjadi teman karib dari istri Gus Dur, Nyai Sinta Nuriyah. Sejak ibtidaiyyah, Muallimat Bahrul Ulum, Tambakberas Jombang hingga Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga, keduanya sering bersama.
Nyai Nafisah Sahal, yang merupakan putri KH. Abdul Fatah Hasyim, sering melihat Gus Dur main catur dengan ayahnya. “Di sela-sela kesibukan ngaji di pondok, Gus Dur menantang gurunya bermain skak,” ungkapnya.
Wallahu a’lamu bisshawab. 
Munawir Aziz

Biografi K.H. M.A. Sahal Mahfudz Pati: Salah Satu Tokoh yang Berpengaruh dalam NU dan MUI

Written By Lens@ Bulletin on 11 Jan 2015 | 14.13



 
Foto Kiai Sahal Mahfudz (Kanan), bersama Gus Mus (Kiri)
K.H. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz, pengasuh Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, Jawa Tengah, seluruh kehidupan dan aktivitasnya terkait dengan dunia pesantren, ilmu fiqih, dan pengembangan masyarakat.

Kiai Sahal memang nahdliyyin tulen. Dalam menyikapi berbagai problematik sosial, ia selalu menjunjung tinggi sikap tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), dan tasamuh (egaliter), yang menjadi ciri khas ulama NU.

Namun, kontribusi pemikirannya yang paling menonjol adalah perhal fiqih sosial kontekstual, yakni bahwa fiqih tetap mempunyai keterkaitan dinamis dengan kondisi sosial yang terus berubah.  Penampilan Kiai Sahal Mahfudz bersahaja, tenang, dan lugas dalam berbicara tapi tidak terkesan menggurui. Padahal ia adalah nakhoda kapal besar bernama Nahdlatul Ulama dan MUI, yang fatwa-fatwanya sangat berpengaruh.

Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz lahir di Desa Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, 17 Desember 1937. Ia putra K.H. Mahfudz Salam, pendiri Pesantren Maslakul Huda, pada tahun 1910. Nasab Mbah Sahal bermuara pada K.H. Ahmad Mutamakin, tokoh legendaris yang diyakini hidup pada abad ke-18, salah seorang waliyullah, penulis kitab tasawuf Serat Cebolek.

Sahal Mahfudz kecil mengaji kepada orangtuanya, sambil bersekolah di Madrasah Diniyyah tingkat ibtidaiyah (1943-1949) dan tingkat tsanawiyah (1950-1953) di lingkungan Perguruan Islam Mathaliul Falah, Kajen, Pati. Sambil sekolah di Madrasah Diniyyah, ia juga mengikuti kursus ilmu umum di Kajen (1951-1953).

Tamat MTs, Sahal nyantri di Pesantren Bendo, Pare, Kediri, Jawa Timur, yang diasuh Kiai Muhajir. Empat tahun kemudian ia melanjutkan ke Pesantren Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Di pesantren yang terkenal dengan pendidikan ilmu fiqih itu ia belajar langsung kepada Kiai Zubair. Selain mengaji, ia, yang sudah cukup alim, juga diminta membantu mengajar santri-santri yunior.
Pertengahan tahun 1960, usai menunaikan ibadah haji, Sahal Mahfudz bermukim di Makkah dan belajar kepada Syaikh Muhammad Yasin Al-Fadani. Tak kurang tiga tahun ia berguru kepada ulama besar Al-Haramain asal Padang itu. Tahun 1963, ia pulang ke tanah air.

Kehadiran ulama muda yang berita kealimannya dalam bidang fiqih sudah mulai tersebar itu segera saja menarik perhatian beberapa lembaga. Sejak 1966 Kiai Sahal diminta mengajar sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi. Puncaknya, sejak 1989, ia dipercaya menjadi rektor di Institut Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.
Meski hanya belajar di bangku pesantren, sejak muda Kiai Sahal telah menunjukkan bakat menulis. Tradisi yang semakin langka di lingkungan ulama NU. Ratusan risalah atau makalah dan belasan buku telah ditulisnya.

Salah satu karya yang merupakan bukti keandalannya dalam menulis adalah kitab Thariqat al-Hushul (2000), syarah atas kitab Ghayah Al-Wushul, sebuah kitab tentang ushul fiqh karya Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari. Karena kelebihan tersebut, Kiai Sahal kemudian banyak didekati kalangan media.

Kiprah Kiai Sahal di NU diawali dengan menjadi kahtib Syuriah Partai NU Cabang Pati 1967-1975. Kedalaman ilmunya dan kearifan sikapnya perlahan membawa langkah kaki suami Dra. Hj. Nafisah Sahal itu ke jenjang tertinggi di NU, yakni rais am Syuriah PBNU, untuk periode 1999-2004, dan terpilih lagi di Muktamar Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah, untuk periode 2004-2009.
Kiai Sahal sangat teguh dalam menjaga sikap. Saat terpilih menjadi rais am PBNU pada 1999, ia menyampaikan pandangan kenegaraannya bahwa, sejak awal berdirinya NU, warga nahdliyyin berada pada posisi menjaga jarak dengan negara. Karena itu, meski jabatan presiden saat itu diemban oleh K.H. Abdurrahman Wahid, yang juga tokoh NU, Kiai Sahal tetap mempertahankan tradisi tersebut dengan selalu bersikap independen terhadap pemerintah.

Selain di NU, kefaqihan Kiai Sahal juga membawanya ke MUI. Setelah sepuluh tahun memimpin MUI Jawa Tengah, pada tahun 2000 ia terpilih menjadi ketua umum MUI Pusat untuk periode 2000-2005, dan terpilih lagi untuk periode 2005-2010.


Sumber: http://www.sarkub.com
 
Created by: Pecros.Com | Blog kocar kacir
Copyright © 2015. Rifan Herriyadi - All Rights Reserved