Entah kapan awal munculnya bisnis E-hate, dan siapa perintis
bisnis ini. Yang pasti bisnis ini mulai merebak pada masa-masa pilpres hingga
sekarang. Pelaku bisnis ini memanfaatkan follower untuk meraup pundi-pundi uang
dengan cara yang bathil. Semakin banyak haters, mereka semakin untung. Kenapa
bisa demikian?
Lihat lah sekema berikut ini:
Yang mereka lakukan adalah membuat tulisan yang provokatif,
tidak peduli valid atau tidaknya data yang mereka ambil, yang penting bisa
membuat pembaca tertipu dan menyebar tulisan tersebut atau bahkan membuat
pembaca naik darah sehingga memaki-maki tulisannya. Semakin ramai komentar atau
retweet, maka semakin banyak follower berdatangan. Sehingga nilai jual akun
mereka semakin meningkat. Promosi pun juga semakin mudah misalnya jual buku, jual kaos, cari donatur,
pasang iklan dll.
Internet, atau pemasang iklan seperti google adsense
tidak bisa melacak mengapa portal/situs/fanpage bersangkutan bisa ramai
pengunjung/like/share/hit/komentar. Yang penting pengunjungnya ramai terlepas
apa yang diramaikan tersebut adalah pertengkaran, umpat-umpatan, atau bahkan
saling ancam-mengancam.
Topik yang sering mereka ambil adalah soal politik
dan agama. Sebab pada topik ini, banyak sekali perbedaan pendapat. Tinggal
sulut dengan api kecil, meledak lah mereka. Pintarnya mereka adalah membolak
balikkan fakta sehingga sulit sekali dianalisis di mana letak kebohongan
mereka. Mereka juga sudah mempersiapkan jurus saktinya yaitu “NGELES”, jika
kita telah mampu membongkar kebohongan tulisan mereka.
Masih ingat berita hoax mengenai salah satu pakar
tafsir Indonesia, Prof. Quraish Shihab yang dituduh pengikut syiah dan sesat
karena dipelintir penjelasan beliau mengenai Nabi muhammad tidak dijamin masuk
surga. Bagi pendukung Prof. Quraish hal ini adalah suatu penghinaan besar,
sebab seorang ulama mufasir penulis tafsir diinjak-injak oleh seorang penulis
abal-abal. Akibatnya terjadilah perang argumen antara satu kelompok dengan
kelompok lainnya, antara pendukung Prof QS dan yg percaya kabar hoax tersebut.
Asal tahu saja, pelaku bisnis e-hate ini gemar
memfitnah orang-orang besar yang memiliki banyak pendukung maupun pembenci. Tinggal
membuat tulisan yang provokatif sehingga mampu menyulut amarah kedua belah
pihak untuk saling menyerang. Maka semakin ramai pula yang mengunjungi blog
atau fanpage orang tersebut tak peduli itu dari haters maupun pendukung. Tanpa
disadari, mereka yang berperang lelah tanpa dapat apa-apa, mungkin hanya
mendapat dosa saja, sedangkan pembuat tulisan menjadi terkenal dan mendapat
uang banyak. Wow.. Cerdik sekali bukan?
Jika teman-teman masih meremehkan dampak negatif
menyebar tulisan-tulisan hoax, provokatif, fitnah. Coba kita renungkan kembali
asal muasal perang-perang terdahulu dari zaman Nabi, hingga zaman modern ini.
Apa penyebab perang-perang tersebut. Masalah-masalah sepele bukan?
Masih ingatkah kalian Perang Teluk I yang melibatkan
Irak, Kuwait dan Amerika Serikat dipicu oleh sebuah berita hoax yang sarat
kebencian dan hasutann tingkat tinggi. Hoax nya sendiri berhasil dibongkar.
Sayangnya, terungkap setelah ratusan ribu nyawa melayang sudah.
Kalau kalian mengira, perang Teluk ini ada masalah
sentimen agama maka kalian salah besar. Ini
sesungguhnya perseteruan Kuwait vs
Irak. Di mana Kuwait dan sekutunya, Arab Saudi, “mengundang” Amerika Serikat
untuk “menyelamatkan” mereka.
Jangan
menggadaikan kehormatan hanya untuk menunjukkan kebencian. Ruginya berlipat-lipat.
Membenci memang wajar, kita manusia biasa. Tapi
menebar kebencian itu hal yang lain lagi. Don’t do it!
Ada banyak sekali sebenarnya kebaikan yang bisa kita
tuai dan kita sebarkan via kecanggihan internet ini. Stay away dari macam-macam
hasut dengki. Percayalah, kebencian itu seperti api. Yang sanggup membakar
habis segalanya. SEGALANYA. Do not Support E-HATE. Say no to hoax! Stay
positive! ;).


Posting Komentar