PECROS HOT NEWS
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
22.15

Mungkin tidak hanya saya saja yang merasa geram dengan tingkah polah bung Jonru, seorang penulis terkenal yang kini namanya melambung pada masa-masa pilpres. Terlebih ketika dia membuat isu tentang Prof. Quraish Shihab yang ia tuduh sebagai penganut syiah yang sesat. Apalagi ternyata tulisan-tulisan tersebut di-like dan di-share oleh banyak orang. Padahal tulisan-tulisan tersebut belum terbukti secara jelas, dan banyak beberapa kalimat yang dipelintir tidak sesuai dengan konteks.
Saya sering melihat di timeline facebook, banyak sekali teman-teman yang share dan like postingan Bung Jonru di facebook fans pagenya. Pengikut Jonru dari teman-teman facebook saya juga semakin meningkat. Bahkan beberapa dosen saya juga ikut mendukung Jonru. Saya semakin geram ketika teman-teman saya semakin meyakini postingan Bung Jonru daripada klarifikasi Prof. Quraish shihab yang mengatakan bahwa beliau adalah sunni.
Saya sampai berpikiran apakah ini termasuk tanda-tanda kiamat. Orang yang belajar agama Islamnya masih setengah-setengah lebih dipercayai daripada seorang pakar tafsir Al Quran yang sudah terjamin ilmunya. Apalagi yang meyakini adalah teman-teman saya satu pesantren. Saya curiga, ini pasti karena pengaruh pilpres. Mereka membenci seseorang secara berlebihan sehingga membenarkan segala sesuatu yang jelek pada orang yang mereka benci.
Saya sebenarnya sudah lama tahu nama Jonru, beliau adalah penulis buku dan pemilik dapurbuku.com Walaupun saya belum pernah membaca karyanya, tapi saya salut dengan perjuangannya untuk meningkatkan minat tulis menulis pada generasi Indonesia. Dia juga muslim yang baik, terlihat dari tulisannya tentang islam. Namun, simpati dan respek saya hilang. Hilang separuhnya, mungkin malah 3/4nya ketika saya tahu dia menulis tentang Politik juga.
Masalahnya bukan capres yang ia dukung berbeda dengan saya. Tapi, caranya menulis keburukan tentang capres Jokowi yang membuat saya tidak suka.
Dia gencar sekali menebar asumsi-asumsi tak berdasar, dengan logika-logika yang diputar-putar, mempelintir konteks, dan menghilangkan beberapa fakta. Berikut ini Beberapa hal yang tidak saya sukai Dari tulisan Jonru:
1.Mengkait-kaitkan sesuatu yang tidak jelas dan menarik kesimpulan seenaknya
Entah berlebihan emosi semangatnya dalam menyampaikan berita (yang ia anggap) kebenaran dan dakwah, atau berlebihan rasa tidak sukanya kepada capres musuh. Cukup berlebihan untuk sampai kata membenci saya pikir. Karena dari apa yang saya lihat, dalam memburukkan capres lawannya, Bung Jonru sering mengkait-kaitkan sesuatu yang tidak ada hubungannya dan menarik kesimpulan seenaknya.
Contohnya: Dia menceritakan sesosok Robin hood, kemudian mengkait-kaitkannya dengan Pak Jokowi. Padahal kita tahu, itu tidak ada hubungannya sama sekali.
Di akhir kata, dia menarik kesimpulan “Bagi para pendukungnya, Jokowi mungkin seperti Robinhood, Tak masalah bila jokowi korupsi, tak masalah melanggar aturan tender untuk kesejahteraan rakyat”. Kemudian di akhir pernyataan, para pembaca disuruh mikir. Apakah Anda setuju dengan konsep Robinhood? Yang sama artinya dengan apakah Anda setuju kalau Indonesia dipimpin orang seperti Robinhood (alias jokowi)?

2. Sering memberitakan sesuatu yang tidak\belum jelas kebenarannya.
Sesuatu yang tidak jelas ini, jika benar maka ia ghibah. Untungnya, seperti yang sering beliau ingatkan kepada likers fans pagenya, ghibah untuk menyadarkan rakyat tentang keburukan calon pemimpinnya di bolehkan dalam Islam.
Tapi, ada hadis lain yang menyatakan kalau membicarakan sesuatu yang belum jelas kebenarannya itu dosa.
Contohnya, silahkan cari sendiri di fanspage facebooknya Bung Jonru. Sering dia membuat pos dengan awalan “Saya tidak tahu apakah berita ini benar atau cuma hoax.”
Dengan menulis tentang ini, secara tidak langsung Bung Jonru membuat para pembacanya berpikiran negatif. Saya rasa sangat banyak yang terpengaruh oleh tulisan Jonru. Tak masalah jika kabar burung itu isinya positif untuk mendukung capres pilihannya, namun jika beritanya miring untuk mendiskreditkan capres lain?
Waullahu’alam. Saya bukan pengatur dosa atau pahala, tapi saya harus sampaikan ini :
" Seseorang hamba yang membicarakan sesuatu yang belum jelas baginya (hakikat dan akibatnya) akan dilempar ke neraka sejauh antara timur dan barat." (HR Muslim )
3. Menghukumi sesuatu seenaknya saja dan terlalu menganggap remeh yang lain
Beberapa pernyataan beliau sering sekali menghukumi sesuatu seenaknya saja misalnya mensesat-sesatkan orang atau golongan yang tidak searah dengan pemikirannya. Misalnya menyesat-nyesatkan orang yang tidak ia sukai dengan sebutan JIL atau Syiah sesat,
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata:
“Pengkafiran itu adalah hak Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu tidaklah seseorang itu kafir kecuali orang yang dikafirkan oleh Allah dan Rasul-Nya.” Kita semua pasti juga tidak asing dengan hadist ini. Rasul bersabda: “Siapa yang memanggil seorang dengan kalimat ‘Hai Kafir’, atau ‘musuh Allah’, padahal yang dikatakan itu tidak demikian, maka akan kembali pada dirinya sendiri”.
Bung Jonru juga sering merasa benar dan menganggap lawannya kurang pengetahuan. Misalnya mengatakan pada lawannya, “belajar ngaji dulu yang bener ya”. Kalimat ini memiliki arti bahwa yang mengatakan merasa ilmunya lebih tinggi daripada lawan bicaranya.

4. Mudah memblokir
Saya pribadi adalah pemilik salah satu akun dari ribuan akun yang di blokir oleh Bung Jonru ini. Selain terkesan kurang gentle bagi saya, beliau juga sebenarnya, telah menghapus beberapa jalan bagi kebaikan dirinya di masa mendatang. Padahal Kritik, pada dasarnya adalah sarana bagi manusia yang ingin memperbaiki dirinya menjadi lebih baik, dengan cara membiarkan orang lain melihat diri kita dan mengomentari diri kita sendiri. Selain itu masih ada beberapa hal yang membuat saya tidak suka dengan cara “memblokirnya” ini.
5.Pilih pilih dalam Memblokir
Saya Tidak heran kalau ada grup yang isinya perkumpulan orang yang mendendam atau sakit hati karena di blokir Jonru. Memblokirnya saja sudah sakit. Apalagi ditambah, dia sangat teramat pilih pilih dalam memblokir suatu postingan /komentar dari member facebooknya
Bagaimana bisa? Perhatikan sendiri komentar di pos-pos fanspagenya.
Dia tidak akan membiarkan satu komentar pun hidup lama-lama di sebuah pos, jika komentar itu mencaci makinya, atau Presiden pilihannya (prabowo). Sangat tidak adil ketika anak-anak labil yang menjelekkan Pak Subianto dengan cara buruk (caci maki, hewan, kotoran dll) di komentar fanspage Pak Jonru langsung dibasmi, di tutup mulutnya (blokir) dan di hapus jejaknya (komentarnya).
Sedangkan, mereka, yang mencaci maki Pak Jokowi, atau dengan kata lain sejalan politik dengan Bung Jonru sendiri, dibiarkan hidup. Meskipun kata yang digunakan sangat-sangat tidak sopan, mengandung nama hewan, kotor, cacian. Menggantikan nama Pak Jokowi dengan kata Jongos. Atau Jokoler yang entah apa artinya. Sedih sekali jika melihat aturan fanspagenya, kenyataan ini sangat bertolak belakang.
6. Sepertinya kurang dewasa
Ya, karena Bung Jonru masih sering berpikir bahwa satu orang yang buruk, semuanya buruk. Satu orang baik semuanya baik. Ketika kader partai goldar memecahkan kaca kantor stasiun televisi satu, dengan sangat bersemangat Pak Jonru menulis semisal “Pendukungnya ini anarkis, pake kekerasan. Belum lagi sering sekali di akhir tulisannya ada satu kalimat dari anies baswedan. “Perilaku pendukung menunjukkan karakter orang yang didukungnya.”. Tak hentinya Pak Jonru gunakan kalimat ini jika ada pendukung Pak Jokowi yang buruk perilakunya. Seakan-akan itu kalimat tak bisa ditentang kebenarannya. Padahal itu hanya kalimat dari seseorang saja. Bukan hadis, bukan firmanNya.
Sejak Akhmad Sahal berdebat dengan Jonru, saya ikut menyimak. Sepertinya asyik dan lucu. Hingga muncul beberapa definisi-definisi dari kedua belah pihak yang berdebat.
Misalnya dari Akhmad Sahal adalah "Keknya dokumen ttg PKS mau lenyapin NU itu hoax, fitnah ke PKS. Jgnlah kita men@jonru= menghalalkan fitnah ke pihak yg ga disukai,".

Saya berniat menambahkan kelucuan-kelucuan dengan membuat definisi baru dari kata jonru-menjonru di KBBI agar twitwar tambah seru.
Saat Bung Jonru tahu bahwa namanya masuk di KBBI, beliau marah dan me-mention saya di twitter. Saya tidak mau memancing emosinya, jadi saya hanya meminta maaf padanya.
Masih belum puas mendamprat saya di twitter dengan mention saya agar saya dibully oleh followernya, dia melacak saya, hingga dia menemukan website saya dan mencari kontak saya, kebetulan di website lembaga bimbel saya ada kontak HP saya.

Beliau berhasil mendamprat saya via telepon dan saya tidak tahu bahwa percakapan tersebut direkamnya. Lagi-lagi saya dibully followernya karena percakapan tersebut di sebar di twitter dan fanpagenya. Alhasil ratusan bahkan ribuan mention hinaan masuk di notifikasi saya.
Belum puas lagi, dia juga berencana akan melaporkan saya ke polisi. Padahal yang meminta dilaporkan ke polisi ada banyak, misalnya Bang Fadjroel, Budi Sujadmiko, Stakof, dll. Namun ternyata dia mengincar saya. Lagi-lagi saya dibully ribuan pengikutnya setelah Bung Jonru menyebar lembar laporan polisi polda metrojaya.
Saya tahu, Bung Jonru terlalu meremehkan saya. Dalam persepsinya pasti dia memandang saya anak ingusan yang penakut dan tidak pintar bicara. Bila saya mau melawan, bisa saja saya melaporkan balik atas tuduhan lemah tersebut, sebab saya memiliki legal standing atau kewenangan untuk melaporkan dia.
Banyak teman-teman saya juga meminta agar saya segera melaporkan jonru balik, mereka siap membantu saya. Saya hanya menjawab, agar tenang saja, tidak perlu buru-buru, ini cuma sekedar guyonan. Lagipula saya masih malas dan sibuk untuk melakukan itu.
Jonru di mata Saya: Surat Terbuka untuk Para Penganut Jonruisme (Jonruwan-Jonruwati)
Written By Lens@ Bulletin on 10 Jan 2015 | 22.15
Mungkin tidak hanya saya saja yang merasa geram dengan tingkah polah bung Jonru, seorang penulis terkenal yang kini namanya melambung pada masa-masa pilpres. Terlebih ketika dia membuat isu tentang Prof. Quraish Shihab yang ia tuduh sebagai penganut syiah yang sesat. Apalagi ternyata tulisan-tulisan tersebut di-like dan di-share oleh banyak orang. Padahal tulisan-tulisan tersebut belum terbukti secara jelas, dan banyak beberapa kalimat yang dipelintir tidak sesuai dengan konteks.
Saya sering melihat di timeline facebook, banyak sekali teman-teman yang share dan like postingan Bung Jonru di facebook fans pagenya. Pengikut Jonru dari teman-teman facebook saya juga semakin meningkat. Bahkan beberapa dosen saya juga ikut mendukung Jonru. Saya semakin geram ketika teman-teman saya semakin meyakini postingan Bung Jonru daripada klarifikasi Prof. Quraish shihab yang mengatakan bahwa beliau adalah sunni.
Saya sampai berpikiran apakah ini termasuk tanda-tanda kiamat. Orang yang belajar agama Islamnya masih setengah-setengah lebih dipercayai daripada seorang pakar tafsir Al Quran yang sudah terjamin ilmunya. Apalagi yang meyakini adalah teman-teman saya satu pesantren. Saya curiga, ini pasti karena pengaruh pilpres. Mereka membenci seseorang secara berlebihan sehingga membenarkan segala sesuatu yang jelek pada orang yang mereka benci.
Saya sebenarnya sudah lama tahu nama Jonru, beliau adalah penulis buku dan pemilik dapurbuku.com Walaupun saya belum pernah membaca karyanya, tapi saya salut dengan perjuangannya untuk meningkatkan minat tulis menulis pada generasi Indonesia. Dia juga muslim yang baik, terlihat dari tulisannya tentang islam. Namun, simpati dan respek saya hilang. Hilang separuhnya, mungkin malah 3/4nya ketika saya tahu dia menulis tentang Politik juga.
Masalahnya bukan capres yang ia dukung berbeda dengan saya. Tapi, caranya menulis keburukan tentang capres Jokowi yang membuat saya tidak suka.
Dia gencar sekali menebar asumsi-asumsi tak berdasar, dengan logika-logika yang diputar-putar, mempelintir konteks, dan menghilangkan beberapa fakta. Berikut ini Beberapa hal yang tidak saya sukai Dari tulisan Jonru:
1.Mengkait-kaitkan sesuatu yang tidak jelas dan menarik kesimpulan seenaknya
Entah berlebihan emosi semangatnya dalam menyampaikan berita (yang ia anggap) kebenaran dan dakwah, atau berlebihan rasa tidak sukanya kepada capres musuh. Cukup berlebihan untuk sampai kata membenci saya pikir. Karena dari apa yang saya lihat, dalam memburukkan capres lawannya, Bung Jonru sering mengkait-kaitkan sesuatu yang tidak ada hubungannya dan menarik kesimpulan seenaknya.
Contohnya: Dia menceritakan sesosok Robin hood, kemudian mengkait-kaitkannya dengan Pak Jokowi. Padahal kita tahu, itu tidak ada hubungannya sama sekali.
Di akhir kata, dia menarik kesimpulan “Bagi para pendukungnya, Jokowi mungkin seperti Robinhood, Tak masalah bila jokowi korupsi, tak masalah melanggar aturan tender untuk kesejahteraan rakyat”. Kemudian di akhir pernyataan, para pembaca disuruh mikir. Apakah Anda setuju dengan konsep Robinhood? Yang sama artinya dengan apakah Anda setuju kalau Indonesia dipimpin orang seperti Robinhood (alias jokowi)?
2. Sering memberitakan sesuatu yang tidak\belum jelas kebenarannya.
Sesuatu yang tidak jelas ini, jika benar maka ia ghibah. Untungnya, seperti yang sering beliau ingatkan kepada likers fans pagenya, ghibah untuk menyadarkan rakyat tentang keburukan calon pemimpinnya di bolehkan dalam Islam.
Tapi, ada hadis lain yang menyatakan kalau membicarakan sesuatu yang belum jelas kebenarannya itu dosa.
Contohnya, silahkan cari sendiri di fanspage facebooknya Bung Jonru. Sering dia membuat pos dengan awalan “Saya tidak tahu apakah berita ini benar atau cuma hoax.”
Dengan menulis tentang ini, secara tidak langsung Bung Jonru membuat para pembacanya berpikiran negatif. Saya rasa sangat banyak yang terpengaruh oleh tulisan Jonru. Tak masalah jika kabar burung itu isinya positif untuk mendukung capres pilihannya, namun jika beritanya miring untuk mendiskreditkan capres lain?
Waullahu’alam. Saya bukan pengatur dosa atau pahala, tapi saya harus sampaikan ini :
" Seseorang hamba yang membicarakan sesuatu yang belum jelas baginya (hakikat dan akibatnya) akan dilempar ke neraka sejauh antara timur dan barat." (HR Muslim )
3. Menghukumi sesuatu seenaknya saja dan terlalu menganggap remeh yang lain
Beberapa pernyataan beliau sering sekali menghukumi sesuatu seenaknya saja misalnya mensesat-sesatkan orang atau golongan yang tidak searah dengan pemikirannya. Misalnya menyesat-nyesatkan orang yang tidak ia sukai dengan sebutan JIL atau Syiah sesat,
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata:
“Pengkafiran itu adalah hak Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu tidaklah seseorang itu kafir kecuali orang yang dikafirkan oleh Allah dan Rasul-Nya.” Kita semua pasti juga tidak asing dengan hadist ini. Rasul bersabda: “Siapa yang memanggil seorang dengan kalimat ‘Hai Kafir’, atau ‘musuh Allah’, padahal yang dikatakan itu tidak demikian, maka akan kembali pada dirinya sendiri”.
Bung Jonru juga sering merasa benar dan menganggap lawannya kurang pengetahuan. Misalnya mengatakan pada lawannya, “belajar ngaji dulu yang bener ya”. Kalimat ini memiliki arti bahwa yang mengatakan merasa ilmunya lebih tinggi daripada lawan bicaranya.
4. Mudah memblokir
Saya pribadi adalah pemilik salah satu akun dari ribuan akun yang di blokir oleh Bung Jonru ini. Selain terkesan kurang gentle bagi saya, beliau juga sebenarnya, telah menghapus beberapa jalan bagi kebaikan dirinya di masa mendatang. Padahal Kritik, pada dasarnya adalah sarana bagi manusia yang ingin memperbaiki dirinya menjadi lebih baik, dengan cara membiarkan orang lain melihat diri kita dan mengomentari diri kita sendiri. Selain itu masih ada beberapa hal yang membuat saya tidak suka dengan cara “memblokirnya” ini.
5.Pilih pilih dalam Memblokir
Saya Tidak heran kalau ada grup yang isinya perkumpulan orang yang mendendam atau sakit hati karena di blokir Jonru. Memblokirnya saja sudah sakit. Apalagi ditambah, dia sangat teramat pilih pilih dalam memblokir suatu postingan /komentar dari member facebooknya
Bagaimana bisa? Perhatikan sendiri komentar di pos-pos fanspagenya.
Dia tidak akan membiarkan satu komentar pun hidup lama-lama di sebuah pos, jika komentar itu mencaci makinya, atau Presiden pilihannya (prabowo). Sangat tidak adil ketika anak-anak labil yang menjelekkan Pak Subianto dengan cara buruk (caci maki, hewan, kotoran dll) di komentar fanspage Pak Jonru langsung dibasmi, di tutup mulutnya (blokir) dan di hapus jejaknya (komentarnya).
Sedangkan, mereka, yang mencaci maki Pak Jokowi, atau dengan kata lain sejalan politik dengan Bung Jonru sendiri, dibiarkan hidup. Meskipun kata yang digunakan sangat-sangat tidak sopan, mengandung nama hewan, kotor, cacian. Menggantikan nama Pak Jokowi dengan kata Jongos. Atau Jokoler yang entah apa artinya. Sedih sekali jika melihat aturan fanspagenya, kenyataan ini sangat bertolak belakang.
6. Sepertinya kurang dewasa
Ya, karena Bung Jonru masih sering berpikir bahwa satu orang yang buruk, semuanya buruk. Satu orang baik semuanya baik. Ketika kader partai goldar memecahkan kaca kantor stasiun televisi satu, dengan sangat bersemangat Pak Jonru menulis semisal “Pendukungnya ini anarkis, pake kekerasan. Belum lagi sering sekali di akhir tulisannya ada satu kalimat dari anies baswedan. “Perilaku pendukung menunjukkan karakter orang yang didukungnya.”. Tak hentinya Pak Jonru gunakan kalimat ini jika ada pendukung Pak Jokowi yang buruk perilakunya. Seakan-akan itu kalimat tak bisa ditentang kebenarannya. Padahal itu hanya kalimat dari seseorang saja. Bukan hadis, bukan firmanNya.
Sejak Akhmad Sahal berdebat dengan Jonru, saya ikut menyimak. Sepertinya asyik dan lucu. Hingga muncul beberapa definisi-definisi dari kedua belah pihak yang berdebat.
Misalnya dari Akhmad Sahal adalah "Keknya dokumen ttg PKS mau lenyapin NU itu hoax, fitnah ke PKS. Jgnlah kita men@jonru= menghalalkan fitnah ke pihak yg ga disukai,".
Saya berniat menambahkan kelucuan-kelucuan dengan membuat definisi baru dari kata jonru-menjonru di KBBI agar twitwar tambah seru.
Saat Bung Jonru tahu bahwa namanya masuk di KBBI, beliau marah dan me-mention saya di twitter. Saya tidak mau memancing emosinya, jadi saya hanya meminta maaf padanya.
Masih belum puas mendamprat saya di twitter dengan mention saya agar saya dibully oleh followernya, dia melacak saya, hingga dia menemukan website saya dan mencari kontak saya, kebetulan di website lembaga bimbel saya ada kontak HP saya.
Beliau berhasil mendamprat saya via telepon dan saya tidak tahu bahwa percakapan tersebut direkamnya. Lagi-lagi saya dibully followernya karena percakapan tersebut di sebar di twitter dan fanpagenya. Alhasil ratusan bahkan ribuan mention hinaan masuk di notifikasi saya.
Belum puas lagi, dia juga berencana akan melaporkan saya ke polisi. Padahal yang meminta dilaporkan ke polisi ada banyak, misalnya Bang Fadjroel, Budi Sujadmiko, Stakof, dll. Namun ternyata dia mengincar saya. Lagi-lagi saya dibully ribuan pengikutnya setelah Bung Jonru menyebar lembar laporan polisi polda metrojaya.
Saya tahu, Bung Jonru terlalu meremehkan saya. Dalam persepsinya pasti dia memandang saya anak ingusan yang penakut dan tidak pintar bicara. Bila saya mau melawan, bisa saja saya melaporkan balik atas tuduhan lemah tersebut, sebab saya memiliki legal standing atau kewenangan untuk melaporkan dia.
Banyak teman-teman saya juga meminta agar saya segera melaporkan jonru balik, mereka siap membantu saya. Saya hanya menjawab, agar tenang saja, tidak perlu buru-buru, ini cuma sekedar guyonan. Lagipula saya masih malas dan sibuk untuk melakukan itu.
Label:
opini
18.27
bisnis e-hate (bisnis online menyebar kebencian): Dampak dan Skemanya
Written By Lens@ Bulletin on 7 Jan 2015 | 18.27
Entah kapan awal munculnya bisnis E-hate, dan siapa perintis
bisnis ini. Yang pasti bisnis ini mulai merebak pada masa-masa pilpres hingga
sekarang. Pelaku bisnis ini memanfaatkan follower untuk meraup pundi-pundi uang
dengan cara yang bathil. Semakin banyak haters, mereka semakin untung. Kenapa
bisa demikian?
Lihat lah sekema berikut ini:
Yang mereka lakukan adalah membuat tulisan yang provokatif,
tidak peduli valid atau tidaknya data yang mereka ambil, yang penting bisa
membuat pembaca tertipu dan menyebar tulisan tersebut atau bahkan membuat
pembaca naik darah sehingga memaki-maki tulisannya. Semakin ramai komentar atau
retweet, maka semakin banyak follower berdatangan. Sehingga nilai jual akun
mereka semakin meningkat. Promosi pun juga semakin mudah misalnya jual buku, jual kaos, cari donatur,
pasang iklan dll.
Internet, atau pemasang iklan seperti google adsense
tidak bisa melacak mengapa portal/situs/fanpage bersangkutan bisa ramai
pengunjung/like/share/hit/komentar. Yang penting pengunjungnya ramai terlepas
apa yang diramaikan tersebut adalah pertengkaran, umpat-umpatan, atau bahkan
saling ancam-mengancam.
Topik yang sering mereka ambil adalah soal politik
dan agama. Sebab pada topik ini, banyak sekali perbedaan pendapat. Tinggal
sulut dengan api kecil, meledak lah mereka. Pintarnya mereka adalah membolak
balikkan fakta sehingga sulit sekali dianalisis di mana letak kebohongan
mereka. Mereka juga sudah mempersiapkan jurus saktinya yaitu “NGELES”, jika
kita telah mampu membongkar kebohongan tulisan mereka.
Masih ingat berita hoax mengenai salah satu pakar
tafsir Indonesia, Prof. Quraish Shihab yang dituduh pengikut syiah dan sesat
karena dipelintir penjelasan beliau mengenai Nabi muhammad tidak dijamin masuk
surga. Bagi pendukung Prof. Quraish hal ini adalah suatu penghinaan besar,
sebab seorang ulama mufasir penulis tafsir diinjak-injak oleh seorang penulis
abal-abal. Akibatnya terjadilah perang argumen antara satu kelompok dengan
kelompok lainnya, antara pendukung Prof QS dan yg percaya kabar hoax tersebut.
Asal tahu saja, pelaku bisnis e-hate ini gemar
memfitnah orang-orang besar yang memiliki banyak pendukung maupun pembenci. Tinggal
membuat tulisan yang provokatif sehingga mampu menyulut amarah kedua belah
pihak untuk saling menyerang. Maka semakin ramai pula yang mengunjungi blog
atau fanpage orang tersebut tak peduli itu dari haters maupun pendukung. Tanpa
disadari, mereka yang berperang lelah tanpa dapat apa-apa, mungkin hanya
mendapat dosa saja, sedangkan pembuat tulisan menjadi terkenal dan mendapat
uang banyak. Wow.. Cerdik sekali bukan?
Jika teman-teman masih meremehkan dampak negatif
menyebar tulisan-tulisan hoax, provokatif, fitnah. Coba kita renungkan kembali
asal muasal perang-perang terdahulu dari zaman Nabi, hingga zaman modern ini.
Apa penyebab perang-perang tersebut. Masalah-masalah sepele bukan?
Masih ingatkah kalian Perang Teluk I yang melibatkan
Irak, Kuwait dan Amerika Serikat dipicu oleh sebuah berita hoax yang sarat
kebencian dan hasutann tingkat tinggi. Hoax nya sendiri berhasil dibongkar.
Sayangnya, terungkap setelah ratusan ribu nyawa melayang sudah.
Kalau kalian mengira, perang Teluk ini ada masalah
sentimen agama maka kalian salah besar. Ini
sesungguhnya perseteruan Kuwait vs
Irak. Di mana Kuwait dan sekutunya, Arab Saudi, “mengundang” Amerika Serikat
untuk “menyelamatkan” mereka.
Jangan
menggadaikan kehormatan hanya untuk menunjukkan kebencian. Ruginya berlipat-lipat.
Membenci memang wajar, kita manusia biasa. Tapi
menebar kebencian itu hal yang lain lagi. Don’t do it!
Ada banyak sekali sebenarnya kebaikan yang bisa kita
tuai dan kita sebarkan via kecanggihan internet ini. Stay away dari macam-macam
hasut dengki. Percayalah, kebencian itu seperti api. Yang sanggup membakar
habis segalanya. SEGALANYA. Do not Support E-HATE. Say no to hoax! Stay
positive! ;).
Label:
opini
00.19

Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Menjawab Tantangan Jonru: Melapor ke Polisi
Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Sebelumnya saya mohon maaf yang
sebesar-besarnya jika ada yang tidak berkenan dalam tulisan saya ini.
Anda berhak untuk menghentikan membaca. Sekali lagi, saya mohon maaf…
Mungkin hari itu adalah hari yang
dinanti-nantikan bagi tidak banyak orang. Saya melihat Jonru menggunakan
baju putih seperti yang dipakai para menteri Kabinet Kerja waktu lalu.
Bedanya, pakaian Jonru lebih rapi. Ujung bajunya dimasukkan ke dalam
celana bersabuk, dan sisiran (sekali lagi sisiran bukan sirsiran!)
rambutnya perlente (sekali lagi perlente bukan parlente!). Jonru
menghadap Jokowi, orang yang selama ini dia bully hampir tiap hari.
Kecuali hari libur, saat dia mengisi pelatihan atau memang sedang
liburan.
Jonru… Iya… Jonru… (meniru gaya Dodit
Prasetyo). Jonru lengkap dengan kumis dan jenggot serta wajah yang
‘banyak-sekali-yang-ingin-saya-tulis-lebih-dari-yang-sudah-saya-tulis.’
Tapi di hadapan Jokowi, dia terdiam. Namun di balik diamnya itu, nampak
samar-samar kerutan yang menandakan masih tingginya idealisme yang dia
miliki. “Aku nggak takut sama kamu. Lha wong kita sama-sama makan nasi.”
Mungkin itu yang bisa saya tangkap dari menterjemahkan ekspresi
wajahnya, berdasarkan ilmu yang saya pelajari dalam kitab at-ta’awwur (baca: ngawur!).
Tak lama kemudian, saya terbangun.
Eladalah…. Ternyata cuma mimpi! Tapi aneh. Kenapa tiba-tiba saya mimpi
Jonru? Ada apa gerangan? Kebetulankah? Saya rasa tidak! (meniru gaya Bernie Kropp dalam The Incredibles).
Lalu saya pun membuka fanpage Jonru (sebuah
kegiatan yang hampir tidak pernah saya lakukan). Ya. Saya nyaris tidak
pernah menelusuri fanpage Jonru. Saya memang nge-like fanpagenya, tapi
tidak pernah sampai menelusuri. Saya memang sering share
status-statusnya, tapi itu pun sebatas status yang memang sudah di-share
oleh fansnya Jonru (kalau fansnya JKT48 disebut WOTA, lalu fansnya
Jonru disebut apa ya?).
Lambat laun saya mulai memahami mengapa
tadi malam Jonru hinggap dalam mimpi saya. Saya jadi teringat tentang
tulisan saya yang pertama waktu itu. Ada kata-kata ‘bersambung jika
diperlukan.’ Mungkin ini saatnya saya menyambung tulisan tersebut.
Ternyata ada yang super-sekali di dalam fanpagenya. Jonru mengadakan swayamwara dalam rangka mencari jodoh buat anaknya:
Jika memang benar saya provokator,
tukang fitnah, pemecah belah bangsa, coba laporkan saja ke polisi,
disertai bukti-bukti yang kuat.
Wow! Super sekali! (meniru gaya Om Mario
Teguh). Orang yang berani mengeluarkan statement seperti itu, di muka
bumi ini hanya bisa dihitung dengan kalkulator 12 digit lho…
Dalam waktu satu detik, terlintas niat untuk melaporkan Jonru ke kantor polisi. Tapi langsung saya batalkan.
Bagi saya, Jonru termasuk sosok bullyer
yang sangat cerdik. Gimana nggak cerdik? Dia punya kemampuan menulis di
atas rata-rata (anggaplah seperti itu). Dia belajar menulis lebih banyak
daripada orang yang tidak belajar menulis (ya iyalah keles…).
Cobalah sekali-sekali baca komentar setiap postingannya. Lebih banyak orang yang standing applause daripada yang mem-booooo
statusnya. Kalaupun ada, pasti tidak akan bertahan lama karena akan
diblokir. Saking banyaknya orang yang diblokir, sampai-sampai ada sebuah
pseudo-fanpage Kamu Bertanya Jonru Memblokir, semacam barisan-sakit-hati gitu.
Maka pantas saja banyak sekali komentar
positif dari status Jonru, karena memang yang ditampilkan adalah segi
positifnya saja. Hal ini tidak aneh, karena sebagai penulis, Jonru juga
seorang pebisnis.
Dan lagi, tidak pernah ada satu pun status
Jonru yang menyudutkan pihak tertentu. Inilah kunci kesuksesan seorang
bullyer semacam Jonru. Jonru, seorang yang agamis, kader PKS, tidak
pernah secara verbal menuduh orang begini dan begitu. Dia pasti
menunjukkan link berita ini itu. Kemudian dia mulai giring para ‘fans
setia’ (maaf saya nggak tahu nama Jonru fans club) pada sebuah simpulan.
Dan… #makjleb (karena #maknyus sudah terlalu mainstream). Jonru pun
sukses ‘mencuci otak’ mereka.
Supaya saya tidak dikira mencuci otak, ini
saya beberkan sebuah postingan dia yang masih
hangat-hangat-kuku-merah-merah-jambu-lihat-pohon-pisang-kalau-berbuah-hanya-sekali
(sorry saya lagi stress… jadi saya nyanyi lagu nostalgila dulu)
tertanggal 29 Oktober 2014. Untuk lebih lengkapnya Anda bisa lihat
sendiri di fanpagenya. Di sini, saya akan memotong TANPA MENGURANGI
MAKSUD SEBENARNYA. Yang ditulis tebal adalah tulisan Jonru.
JONRU MENULIS:
Ada Pria yang Ditangkap Mabes Polri Setelah Membully Jokowi?
Berita in kemarin bikin heboh di mana-mana. “Orde baru jilid dua telah hadir!” Kata banyak orang.
Namun teman-teman sekalian, asli saya merasa SANGAT HERAN pada berita tersebut. Karena:
1. Disebutkan bahwa profesi
pria tersebut adalah tukang tusuk sate. Hm… baru tahu nih, ada profesi
tukang tusuk sate. Kalo tukang sate sih, saya sudah lama tahu.
TANGGAPAN SAYA:
Pada poin pertama dengan amat sangat lihai
(kata lain dari licik), Jonru mulai menggiring pembaca setianya untuk
sama-sama tidak percaya kalau ada profesi yang bergelar “tukang tusuk
sate.” Memang, nampaknya tidak ada yang salah dalam tulisan ini. Tapi
orang yang sudah terbiasa dengan brainwashing, akan
memahaminya. Memangnya 5000 tahun lalu ada profesi penulis novel?
Penerbit buku? Memang, teknik awal sebuah brainwashing adalah keheranan yang wajar.
JONRU MENULIS:
2. Siapa nama pria tersebut?
Kok cuma inisial? Bahkan nama ibunya cuma inisial (seperti diberitakan
di http://ift.tt/ZXCaJ6). Padahal ibunya kan bukan kriminal. Kok pake
inisial?
TANGGAPAN SAYA:
Aneh kan? Tidak! Yang aneh itu pertanyaan Jonru. Useless question, ya
know! Sudah menjadi kebiasaan pemberitaan bahwa seorang tersangka
disebut hanya inisialnya saja. Kenapa ibunya ikut-ikutan dipanggil
inisial padahal bukan pelaku kriminal? So what??? Emangnya kenaffa???
Kalo pake inisial kenapa dan kalo nggak pake inisial kenapa?. Brainwashing kedua: pertanyaan tidak penting.
JONRU MENULIS:
3. Mana foto si tukang tusuk sate? Kok tak pernah diperlihatkan? Foto ibunya pun tidak pernah diperlihatkan.
TANGGAPAN SAYA:
Ini masih mengenai teknik brainwashing
kedua: pertanyaan tidak penting. Mungkin foto si tukang tusuk sate
tidak diperlihatkan karena (mungkin lho mungkin) bisa bikin Jonru
berteriak waauuw?
JONRU MENULIS:
4. Adakah contoh screenshot
yang berisi perbuatan bully si tukang tusuk sate terhadap Jokowi? Kok
tak pernah diperlihatkan pada beritanya?
TANGGAPAN SAYA:
Ada kasus di mana barang buktinya bisa
diperlihatkan ke publik. Ada pula kasus yang barang buktinya tidak bisa
diperlihatkan kepada khalayak ramai. Contohnya kasus seperti ini. Hanya
orang-orang tertentu saja yang berhak melihatnya. Cobalah Anda berkaca
pada diri Anda sendiri. Bagaimana perasaan Anda ketika ada foto Anda
dengan wanita lain sedang berhubungan badan, tersebar di mana-mana. Dan
lagi, sebenarnya itu adalah foto editan. Apakah Anda rela difitnah
sekejam itu?
JONRU MENULIS:
Atau minimal tulisan-tulisannya
yang berisi bully terhadap Jokowi tersebut di-copy paste ke dalam
berita. Tapi sama sekali tidak ada.
TANGGAPAN SAYA:
Ini bentuk ketidaktahuan (untuk tidak
menyebut kesoktahuan yang keterlaluan) seorang yang menulis buku lebih
dari satu. Dia tergesa-gesa membaca berita, dan kemudian mempost ke
fanpage yang berisi barisan orang-orang setia. Dia pikir bullying yang
membuat seorang tukang tusuk sate sama seperti bullying yang selama ini
dia lakukan.
JONRU MENULIS:
5. Pelaku katanya sudah dilaporkan sejak 27 Juli 2014. Kok baru ditangkap sekarang?
TANGGAPAN SAYA:
Kalau teknik pertama dan kedua adalah introduction to brainwashing, yang ini sudah menjurus ke arah brainwashing an sich.
Setelah menggiring pembacanya untuk sama-sama “bertanya-tanya” sesuatu
yang tidak penting, kemudian pembaca digiring kepada inti dari sebuah
brainwashing yakni memaksa dengan ikhlas untuk percaya pada sebuah
KONSPIRASI. Tujuan utama brainwashing adalah memercayai konspirasi. Dan
dari pertanyaan inilah dimulai doktrinasi dengan dalil cocoklogi.
Memangnya kenapa kalo dilaporkan sejak 27
Juli dan ditangkap sekarang? Kalo langsung ditangkap, pasti
pertanyaannya akan berganti: mengapa tidak dilakukan penyelidikan dulu? Dan ketika proses penyidikan dan penyelidikan berjalan sangat lama, pertanyaannya menjadi: kok baru ditangkap sekarang? Artinya, maju kena mundur kena.
Ini merupakan contoh warga negara yang
tidak melek hukum. Saya prihatin. Untuk ukuran seorang penulis, tidak
tahu hukum adalah, maaf seribu maaf, menghina diri sendiri.
Tidak selamanya orang yang ditetapkan
menjadi tersangka sudah pasti ditahan. Tidak selamanya pula orang yang
belum ditetapkan menjadi tersangka tidak ditahan. Itu semua ada
pertimbangannya.
Mungkin Jonru masih sakit hati dengan peristiwa langsung ditahannya mantan presiden PKS Lutfi Hasan Ishak. Sakitnya tuh di sini…
PERTANYAAN NOMOR 6 DAN 7 SAYA SKIP KARENA SUDAH BISA DIKETAHUI TANGGAPAN SAYA.
Mohon jangan ada pertanyaan: Mengapa Yusuf Ali tidak menanggapi pertanyaan nomor 6 dan 7? Hehehe…
JONRU MENULIS:
8. Irfan Fahmi disebutkan
sebagai kuasa hukum MA, si tukang tusuk sate. Hm… hebat juga ya. Tukang
tusuk sate, yang katanya orangnya sangat polos, dan pasti bukan orang
kaya, bisa punya kuasa hukum.
TANGGAPAN SAYA:
Satu kata: prihatin. Bukan kepada tukang
tusuk sate, tapi kepada Jonru. Seorang yang, ah, lagi-lagi harus saya
sebut: menelurkan beberapa karya tulis, tidak tahu menahu tentang proses
peradilan hukum. Dia tidak tahu atau hanya mencoba untuk melakukan
pencucian otak, bahwa setiap warga negara berhak memeroleh bantuan
hukum. Tak terkecuali tukang tusuk sate. Adalah sebuah pelanggaran yang
sangat berat, bila ada terdakwa yang tidak didampingi oleh pengacara.
Mereka yang tidak sanggup menyewa pengacara, bisa mendapat bantuan hukum
dari LBH (Lembaga Bantuan Hukum).
Sudah Anda lihat kan betapa lihai dan
cerdiknya si Jonru ini. Dengan memanfaatkan kepolosan penggemarnya, dia
giring mereka untuk memercayai sebuah konspirasi Dajjal.
Kecerdikan Jonru yang patut diacungi jempol
adalah pemilihan kata-katanya yang amat sangat hati-hati. Hampir tanpa
cela. Dia begitu rapi memilah dan memilih kata sehingga tidak seorang
pun yang bisa protes terhadap bullying yang dia lakukan.
Masih ingat bagaimana dia membully Jokowi
waktu akan bikin kabinet? Dia tidak yakin konsep koalisi tanpa syarat
yang didukung Jokowi. Kemudian muncullah nama Maruarar Sirait masuk
dalam bursa kabinet Kerja. Siapa yang nggak kenal Ruar? Ruar adalah PDIP
dan PDIP adalah Ruar. Menariknya, ternyata pada kabinet yang diresmikan
Ahad lalu, nama Ruar tidak jadi masuk ke dalam kabinet. Dan apa reaksi
Jonru?
Tidak ada! Jonru tidak menulis apa-apa
tentang itu. Tetapi dengan sangat cerdik, dia mencopas tulisan Sintong
Silaban yang berjudul Tidak Adakah Orang Batak Yang Layak Menteri? Tertanggal 27 Oktober 2014.
Eng… ing… eng… (meniru gaya triomacan2000,
saya turut bersukacita atas tertangkap basahnya admin saat melakukan
pemerasan). Sangat rapi, bukan? Apa yang melatarbelakangi Jonru mencopas
artikel itu di fanpagenya?
Dia menggunakan lidah orang lain untuk
menjadi bahan bullying. Tidak hanya itu, dia juga pernah menulis,
“Korban PHP mulai berjatuhan.” tertanggal yang sama. Kalau Anda tidak
tahu maksudnya, ini adalah semacam kata-kata “kapok sukurin rasain
mahoni pahit rasanyanyanyanyanya….”
Maju kena mundur kena. Jika Ruar jadi masuk
kabinet, katanya “intervensi PDIP”. Tapi ketika Ruar tidak jadi masuk
kabinet, katanya “Jokowi menganggap orang Batak tidak layak jadi
menteri.” Tapi dia mengatakan itu dengan meminjam lidah orang lain!
Hebat, kan!
Mungkin ada yang membela Jonru: Itu kan bukan tulisan Jonru. Jonru tidak mengatakan demikian!!!
Men… Be wise men… Kalo kamu lihat orang di
jalanan lagi sebar brosur kredit motor, berarti dia siapa? Kemungkinan
dia itu sales motor, atau orang yang dibayar untuk sebar brosur.
Berarti orang yang sebar artikel apa
adanya, TANPA ADA TANGGAPAN dari yang menyebar, kemungkinan dia adalah
yang menulis, atau orang yang dibayar untuk menyebar tulisan. Nggak
mungkin ngeshare tulisan tanpa ada catatan, kalo nggak setuju dengan
isinya. Atau, setidaknya, ada maksud tersembunyi di balik itu.
Kalau dalam serial Mahabharata, bisa
diibaratkan Jonru adalah Shakuni-nya. Terus yang jadi Krisna siapa?
Mungkin saya. Hehehe… Santai saja, keponakanku…
Sudahlah… Nggak habis-habisnya ngurusin
Jonru. Semakin dibahas dia semakin terkenal saja. Hahaha… Memang itu kan
yang dia mau. Apalagi kalau sampai lapor polisi. Jangan-jangan kita
malah yang dilapor balik. Sebab sebagaimana Shakuni, Jonru itu sangat
cerdik. Lagipula saya tidak menemukan satu posting pun yang sangat
tendensius yang membuat dia layak menikmati layanan hotel prodeo.
Kata teman-teman saya, sayang banget kalo fanpage Jonru dihapus, sebab nggak ada lagi bahan buat lucu-lucuan.
Simpan energimu untuk negeri kita tercinta
ini mas bro dan mbak sis… Pesan saya hanya satu: jangan coba-coba
laporkan Jonru ke polisi. Jonru itu orang baik. Dia kader dakwah. Dia
selalu berhati-hati dalam berbicara dan menulis. Hanya saja, karena
tulisannya terlalu ‘benar’, dia dengan seenaknya menyalah-nyalahkan
orang lain. Tapi itu pun dengan cara yang sopan kok.
Seandainya tukang tusuk sate sepintar Jonru, tentu dia tidak akan berurusan dengan polisi.
Wallahu a’lam. Kurang lebihnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Penulis: Yusuf Ali
Label:
opini
17.40
Sebuah Pengakuan seorang yang mengaku Kader PKS
Written By Lens@ Bulletin on 6 Jan 2015 | 17.40
Banyak kontroversi jika kita membicarakan tentang partai politik. Ada yang suka, ada yang tidak suka, ada yang suka banget, ada yang benci banget. Salah satu partai yang membuat saya tertarik adalah partai keadilan sejahtera (PKS), sebab perbincangan tentang partai ini lah yang paling ramai di timeline facebook dan twitter saya. Saya juga sempat membaca buku-buku tentang partai ini misalnya Profil Kader Partai Keadilan Sejahtera, Ideologi Politik PKS, Dilema PKS: Suara dan Syariah, dll.
Disini saya tidak akan membahas bagaimana buruknya partai ini, atau baiknya partai ini. Namun, saya ingin mendiskusikan tulisan dari seseorang yang mengaku mantan kader PKS dari Universitas Indonesia (UI) bernama Arbania Fitriani sebagai "note" pribadi di facebook.
Berikut tulisannya:
Pertama-tama, saya menuliskan pengalaman saya ini tidak untuk menjatuhkan atau menjelek-jelekkan salah satu partai besar di Indonesia. Saya hanya ingin berbagi pengalaman untuk menjadi bahan renungan para pembaca agar dapat lebih mengenal PKS dari dalam.
Tulisan ini dimaksudkan agar masyarakat dapat mengenal PKS secara objektif, agar rakyat Indonesia mengetahui apakah PKS benar-benar mengusung kepentingan rakyat Indonesia atau justru sedang mengkhianati masyarakat dan para kadernya sendiri dengan sentimen keagamaan serta jargon sebagai partai bersih. Sayangnya, banyak masyarakat dan orang-orang di dalam tubuh PKS ini pun tidak menyadarinya.
Bagian tersebut akan saya jelaskan secara singkat di akhir cerita saya, dan sekarang saya ingin berbagi dulu kepada para pembaca mengenai sistem pengkaderan PKSyang sangat canggih dan sistematis sehingga dalam waktu singkat membuatnya menjadi partai besar.
Saya waktu mahasiswa adalah kader PKS mulai dari 'amsirriyah sampai ke 'am jahriyah. Mulai dari saya masih sembunyi-sembunyi dalam berdakwah, sampai ke fase dakwah secara terang-terangan, sejak PKS masih bernama PK sampai kemudian menjadi PKS.
Dalam struktur pengkaderan PKS di kampus, ada beberapa lingkaran, yakni lingkaran inti yang disebut majelis syuro'ah (MS), lingkaran ke dua yakni majelis besar (MB), dan lingkaran tiga yang menjadi corong dakwah seperti senat (BEM), BPM (MPM), dan lembaga kerohanian islam.
Jenjangnya adalah mulai dari lembaga dakwah tingkat jurusan, fakultas, sampai ke Universitas. Jika di universitas tersebut terdapat asrama dan punya kegiatan kemahasiswaan, maka di sana pun pasti ada struktur seperti yang telah saya terangkan.
Universitas biasanya akan berhubungan dengan PKS terkait perkembangan politik kampus maupun perkembangan politik nasional. Dari sanalah basis PKS dalam melakukan pergerakan-pergerak an politik dalam negeri atas nama mahasiswa baik itu yang berwujud demonstrasi ataupun pergerakan lainnya. Sistem pergerakan, pengkaderan, dan struktur lingkaran yang terjadi di dunia kampus sama persis dengan yang terjadi di tingkat nasional.
Kembali ke dalam struktur lingkaran PKS di kampus, orang-orang yang duduk di MS jumlahnya biasanya tidak banyak dan orang-orangnya adalah orang-orang yang terpilih. Kebanyakan yang menjadi anggota MS adalah mahasiswa yang memang sudah di kader sejak SMU. Tapi tidak banyak juga yang berhasil masuk ke dalam MS dari orang-orang yang telah dikader pada saat kuliah. Saya termasuk orang yang masuk ke dalam lingkaran MS yang baru di kader pada saat kuliah dan menduduki posisi sebagai mas’ulah di asrama UI sehingga saya punya akses langsung untuk berdiskusi dengan mas’ulah tingkat universitas. Dari sini juga saya akhirnya banyak tahu sistem dalam PKS meskipun saya pada tingkat fakultas hanya masuk sampai tingkat MB.
Dalam MS dan MB memiliki mas’ul (pemimpin untuk anggota ikhwan) dan mas’ulah (pemimpin untuk anggota akhwat). Masing-masing mas’ul (ah) ini membawahi MS secara keseluruhan dan ada juga mas’ul (ah) yang membawahi sayap-sayap dakwah yakni sayap tarbiyah (mengurusi pengkaderan khusus untuk ikhwah seperti pemetaan liqoat, materi liqoat, dll), sayap syiar (mengurusi syiar islam khususnya dalam lembaga kerohanian formal dan menjaring kader baru), dan sayap sosial & politik (mengurusi dakwah dalam bidang lembaga formal kampus yakni BEM dan MPM).
Di lingkaran ke dua adalah majelis besar, anggotanya adalah ikhwah yang sudahdi kader juga dan tinggal menerima keputusan dari MS untuk dilaksanakan. Jadi, MS ini adalah tink-tank dari seluruh kegiatan yang terjadi di kampus. Apabila kader PKS duduk sebagai ketua BEM/Senat atau MPM/BPM, maka semua kegiatannya harus mendapat ijin dari MS dan memang biasanya berbagai agenda di BEM/Senat dan MPM/BPM ini dibuat oleh MS.
Bagaimana sistem pengkaderan PKS itu sendiri...? Bagaimana PKS mengubah seorang menjadi kader yang militan...? Jalan pertama adalah menguasai Senat, BEM, BPM, dan MPM. Apabila lembaga formal ini sudah dikuasai maka akan mudah untuk membuat kebijakan terutama pada masa penerimaan mahasiswa baru.
Saat orientasi Mahasiswa baru biasanya mereka akan dibentuk kelompok kecil (halaqah) dan ikhwah PKS akan berperan sebagai mentor. Kegiatan ini akan berlanjut rutin selama masa perkuliahan di mana halaqah ini akan berkumpul 1 minggu sekali. Dari sinilah biasanya akan terjaring orang-orang yang kemudian akan menjadi ikhwah militan, bahkan orang yang sebelumnya tidak pakai jilbab dan sangat gaul bisa menjadi seorang akhwat yang sangat pemalu namun juga sangat militan.
Agenda utama kami adalah membentuk Manhaj Islamiyah di Indonesia menuju Daulah Islamiyah (mirip dengan sistem Khilafah Islamiyah dari HTI). Doktrin utama dalam sistem jamaah PKS yang juga menamakan dirinya sebagai jamaah Ikhwanul Muslimin ini adalah “nahnu du’at qobla kulli sya’I” dan“sami’na wa ata’na”. Dua doktrin inilah yang membuat kami semua menjadi orang yang sangat loyal dan militan. Setiap instruksi yang diberikan dari mas’ul (ah) atau pun murabbi (ah) kami akan kami pasti patuhi meskipun kami tidak benar-benar paham tujuannya. Seperti menyumbang, mengikuti demonstrasi, meskipun harus bolos kuliah, dll.
Selama saya aktif di pergerakan ini, saya melihat banyak sekali teman-teman saya yang berhenti menjadi Aktivis Dakwah Kampus (ADK). Dulu saya merasa kasihan dengan mereka, karena yang saya tahu diberitahu oleh murabbi kami dan juga seringkali dibahas dalam taujih atau tausiyah (semacam kultum) bahwa dalam jalan dakwah ini selalu akan ada orang-orang yang terjatuh di jalan dakwah, mereka adalah orang-orang futur (berbalik ke belakang).
Orang-orang ini biasanya kami label sebagai anggota “basah” (barisan sakit hati). Saya mempercayai semuanya sampai akhirnya saya pun merasa tidak cocok lagi untukberada di sana dan memutuskan untuk keluar dari ADK padahal saya dulu sudah diproyeksikan sebagai ADK abadi (orang yang akan menjadi aktivis dakwah kampus selamanya dengan cara menjadi dosen atau karyawan tetap di kampus).
Ada beberapa alasan yang membuat saya mengambil keputusan untuk keluar, antara lain:
1. Adanya ekslusivisme antara kami para ADK dengan orang-orang diluar ADK. Kami para ADK adalah orang-orang khos (orang khusus) dan mereka adalah adalah orang ’amah (orang umum). Orang khos adalah orang yang sudah mengikuti tarbiyah dan mengikuti liqo’at (semacam halaqah tapi lebih khusus lagi) dan orang ’amah adalah orang yang belum mengenal tarbiyah.
Para ikhwah, terutama para ADK, tidak akan mau menikah dengan ’amah karena mereka dapat membuat orang khos seperti kami menjadi futur, bahkan bisa membuat kami terlempar dari jalan dakwah. Istilah khos dan a’amah ini membuat saya merasa tidak natural dan tidak manusiawi dalam menghadapi teman saya yang ’amah. Saya diajarkan bahwa mereka adalah mad’u (objek dakwah) saya.
Jika saya bisa menarik mereka ke dalam sistem kami apalagi bisa menjadi ADK, maka kami akan mendapat pahala yang sangat besar. Saya merasa menjadi berdagang dengan teman saya yang dulunya sebelum menjadi ADK adalah sahabat saya. Saya merasa tidak memanusiakan teman saya dan lebih memandang mereka sebagai objek dakwah.
2. Dalam liqo’at ataupun dauroh saya juga ada beberapa hal yang membuat saya tidak sreg, seperti bahwa saya harus lebih mengutamakan liqo’at dari pada kepentingan orang tua dan keluarga saya. Bahkan saya pernah diberitahu bahwa bila sudah ada panggilan liqo’at, meski orang tua saya sakit dan harus menjaganya, maka saya harus tetap datang liqo (entah mengapa selama beberapa tahun saya bisa menerima konsep yang kurang manusiawi ini).
Hal lain adalah saya tidak boleh mengikuti kajian di luar liqo saya, padahal setahu saya bahwa kebenaran itu tidak hanya milik liqo saya, masih banyak sekali kebenaran di luar sana. Bahkan buku bacaan pun diatur dimana ada banyak buku yang saya sangat berguna untuk menambah wawasan keislaman saya seperti buku yang mengajarkan tentang hakikat islam namun oleh murabbi saya dilarang. Untuk hal ini saya membangkang karena seandainya islam itu memang benar rahmatan lil 'alamin maka ilmunya pun pasti sangat luas dan tidak hanya monopoli orang-orang di PKS semata.
Dan hal yang paling mengusik saya adalah selama saya mengaji di liqo atau pun mengikuti taujih dan taushiyah dalam syuro atau pun dauroh-dauroh (training) saya merasa lebih banyak diajarkan tentang kebencian terhadap agama atau aliran lain seperti bagaimana kejamnya kaum nashoro (nasrani) yang membantai saudara kami di Poso, Yahudi yang membantai saudara kami di Palestina, JIL yang memusuhi kami, NII yang sesat, teman-teman Salafi yang mengganggu kami, dst.
Sampai-sampai, akibat begitu terinternalisasinya hal tersebut, ketika saya mengikuti tarbiyah universitas dan sedang makan siang, saya dan teman-teman menganggap yang sedang kami makan dan telan itu adalah orang-orang Yahudi dan Nashoro. Doa-doa kami pun selalu secara khusus ketika qunut adalah untuk mujahid-mujahid di Palestina dan Afganistan (kadang saya berpikir kapan kita berdoa untuk pahlawan perjuangan di Indonesia yang telah menghadiahkan kemerdekaan terhadap kita).
Sejujurnya saya lebih tersentuh dan bisa menangis tersedu-sedu ketika dibacakan ayat-ayat seperti dalam surat Ar-Rahman yang menceritakan Cinta-Ilahi ketimbang surah seperti Al-Qiyamah yang menceritakan azab-Nya. Kebencian sangat bertentangan dengan hati nurani saya karena saya sangat percaya dengan ayat yang mengatakan bahwa rahmat Allah SWT lebih cepat dari murka-Nya, yang artinya cinta Allah SWT seharusnya dapat menghapus kemarahan-Nya terhadap umat manusia. Inilah sebabnya mengapa di sini hati saya merasa sangat kering saat mengikuti tausiyah dan taujih yang senantiasa bercerita tentang peperangan dan kebencian.
3. Semua ganjalan-ganjalan yang saya rasakan akhirnya meledak ketika saya kemudian tahu dari sumber yang terpercaya dalam pemerintahan, juga dari petinggi PKS sendiri, tentang agenda yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya dan pastinya juga tidak diketahui oleh orang-orang se-level saya atau bahkan pun pengurus inti PKS.
AGENDA UTAMA PKS
Agenda utama PKS adalah menghancurkan budaya Indonesia melalui invasi budaya Arab Saudi.
Banyak sekali indikasi yang saya rasakan langsung pada saat menjadi ADK sepertiupaya kami untuk menghalang-halangi acara seni, budaya, musik, dll. Hingga berbagai upaya kami agar bisa memboikot mata kuliah ilmu budaya dasar (IBD).
Saya ingat dulu, karena saya begitu termakan doktrin bahwa mata kuliah IBD tidak berguna dan bisa melemahkan iman saya seringkali membolos kalau ada latihan menari sampai saya sempat dibenci teman-teman saya.
Kembali kepada agenda PKS ini sebagai perpanjangan tangan dari Kerajaan Saudi tujuan utamanya adalah agar kekuasaan Arab bisa mencapai Indonesia mengingat satu-satunya sumber devisa Arab adalah minyak yang diperkirakan akan habis pada tahun 2050 dan melalui jamaah haji.
Indonesia adalah negara yang sangat kaya sumber daya alam dan merupakan umat muslim terbesar di dunia. Bahkan jika seluruh umat muslim di timur tengah disatukan, umat muslim Indonesia masih jauh lebih banyak. Untuk itu, agar dapat bertahan secara ekonomi, maka Arab Saudi harus bisa merebut Indonesia dan cara yang paling jitu adalah melalui invasi kebudayaan.
Islam dibuat menjadi satu dengan kebudayaan Arab, sehingga budaya Arab akan dianggap Islam oleh masyarakat Indonesia yang relatifmasih kurang terdidik dan secara emosional masih sangat fanatik terhadap agama.
Ketika kebudayaan lokal sudah bisa dihilangkan dan kebudayaan Arab yang disamarkan sebagai Islam dapat berkuasa, maka orang-orang akan menjadi begitu fanatik buta bahkan fundamentalis dan tidak bisa lagi mengapresiasi agama lain dan budaya lokal. Lalu, bila kebudayaan Nusantara sudah sampai dianggap musyrik atau bid’ah, maka saat itulah NKRI akan bubar.
Orang-orang yang pulaunya dihuni oleh mayoritas non muslim atau yang masih memegang budaya lokal di Indonesia akan meminta merdeka. Pulau-pulau di Indonesia akan terpecah belah dan pada saat itulah orang-orang ini akan bagi-bagi “kue”.
Peta rencanaya adalah bagian pulau di Indonesia yang mayoritas Islam akan dikuasai oleh Arab. Sedangkan daerah yang penduduknya mayoritas kristen akan dikuasai oleh Amerika. Lalu, daerah-daerah yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, Buddha, Animisme, dll., akan dikuasai oleh Cina.
Tidak banyak orang PKS yang tahu soal ini, hanya segelintir saja yang memahaminya. Mereka menduduki posisi-posisi strategis dalam pemerintahan agar dapat lebih memudahkan agendanya. Sentimen keagamaan terus dipakai untuk meraih simpati masyarakat. Sehingga berbagai produk kebijakan seperti Perda Syariat, UU APP, dll. yang rata-rata hanya sekedar mengurus masalah cara berpakaian semata akan dengan bangganya diterima oleh masyarakat muslim yang naif sebagai keberhasilan Islam.
Masyarakat kita lupa bahwa sampai saat ini PKS belum menghasilkan produk yang dapat memajukan ekonomi, menyelesaikan permasalahan kesehatan, pendidikan, pencegahan bencana alam, korupsi, trafficking, tayangan TV yang semakin memperbodoh masyarakat, dan permasalahan lain yang lebih riil dan sangat dibutuhkan oleh masyarakat kita ketimbang sekedar mengatur cara orang dewasa berpakaian dan berperilaku.
Jangan terburu-buru apriori dan menganggap tulisan mengenai pengalaman saya ini adalah black campaign. Renungkan dengan hati nurani yang dalam. Tidak ada kepentingan saya selain hanya menyampaikan kebenaran.
Saya tahu resiko apa yang ada di hadapan saya dan siapa yang saya hadapi. Tapi saya lebih takut menjadi bagian dari orang yang zalim, karena tahu kebenaran, namun tidak bersuara. Rasa cinta saya bagi negeri yang sudah memberi saya kehidupan ini menutupi rasa takut saya. Saya yakin siapa yang berjalan dalam kebenaran maka kebenaran akan melindunginya.
Buat rekan saya, murabbi saya, sahabat-sahabat saya dulu sesama ikhwah, saya mencintai kalian semua dan akan terus mencintai kalian. Saya berharap, persaudaraan kita tetap terjalin karena bukanlah partai atau agama yang mempersaudarakan kita, tapi karena kita satu umat manusia, anak cucu Adam. Kalau bahasa teman saya, kita menjadi saudara karena kita menghirup udara yang sama, makanya kita disebut “sa-udara”.
Semoga pengalaman saya ini dapat menjadi bahan renungan para jamaah “fesbukiyah” dalam menentukan pilihan pemimpin yang akan membawa kapal Indonesia menuju masyarakat yang bahagia, makmur dan sentosa, yang memiliki jati diri dan menghargai kebudayaan nusantara.
Wallahu A’lam Bis-Shawab Wallahul Musta’an.
Begitulah tulisan Arbania Fitriani dalam note facebooknya. Terlepas dari benar tidaknya dia mantan kader PKS dan asli tidaknya akun ini, saya cuma mau minta pendapat teman-teman (dari partai tersebut maupun yang tidak) terkait tulisan tersebut. Saya harap dalam diskusi ini tidak ada kata-kata kasar dan menyakitkan pihak lain. Berpendapatlah secara kritis dan dengan cara yang baik sebagai seorang yang menaati hukum. Terimakasih.





